pegimakan.id

Mencicipi Sate Kebuk ala Sukiran Khas Ponorogo Jawa Timur

0 3

Sate Kebuk

Ponorogo mengunjunginya, suasana rumah tampak sepi. Hanya ada seorang laki-laki tua sedang duduk santai di sofa ruang tamu. Dia tak Sukiran, satu-satunya pedagang sate jeroan di Ponorogo.‘’Saya sedang tidak jualan hari ini,’’ katanya mengira kedatangan wartawan koran ini untuk memesan sate, Satu rombong sate lengkap dengan pikulan terlihat kekia memasuki rumah sederhana tersebut. Perangkat berjualan Sukiran tersebut ditaruh begitu saja di pinggir ruang tamu. Selain itu tak ada barang lain yang terlihat.
Sate kebuk itu ya sate jeroan. Bisa hati, limpa atau lainnya. Lalu diproses layaknya membuat sate yang lain,’’ terang pria yang usianya sudah lebih dari 70 tahun itu.Suami Katini ini menceritakan bahwa ayahnya dulu adalah penjual sate kebuk sejak zaman penjajahan Belanda. Sukiran remaja kala itu juga sering ikut berjualan dengan membantu memikul rombong keliling desa.Setelah ayahnya tua dan tidak sanggup lagi berjualan, baru diteruskan olehnya. Sukiran mengaku mulai jualan sate kebuk sejak remaja.‘’Kalau nggak salah  Jualannya sama seperti bapak, wong tinggal melanjutkan,’’ ungkapnya.Sukiran kini berjualan sate kebuk di Jalan Subali. Sejak dulu hingga sekarang resep sate kebuk olahan bapak tiga anak ini sama. Yang membedakan hanya bahan bakunya.

 

Jika dulu Sukiran mengaku masih menggunakan kebuk kerbau. Kini terpaksa diganti lantaran kesulitan mendapatkan jeroan kerbau. Lalu , Sukiran mulai menggunakan kebuk sapi. Karena kebetulan dari sisi bentuk dan rasanya juga tak jauh berbeda.‘’Lebih mudah mendapatkannya, tinggal beli di toko daging sapi pasti ada. Kalau kebuk kerbau mau mencari di mana,’’ jelasnya sembari menyebut dia satu-satunya pedagang sate kebuk di Ponorogo.Proses pembuatan sate kebuk juga tak jauh beda dengan sate ayam atau lainnya. Sukiran menjelaskan langkah pertama kali yakni membersihkan kebuk yang digunakan menjadi bahan sate. Dengan cara mencucinya.

Setelah bersih direbus atau biasa disebut dialupi. Setelah itu diangkat dan dipotongi sesuai ukuran sate. Sebelum ditusuk, kebuk lebih dulu dibumbui.‘’Baru ditusuk. Setiap tusuk isinya tiga potong. Setelah itu siap dijual,’’ terangnya.Pun untuk proses membakarnya juga sama dengan sate lain. Dia juga menyediakan sebuah bumbu celupan. Jadi, ketika dibakar juga dikasih bumbu celupan. Kata Sukiran, biar rasanya semakin enak.

Untuk menyantap sate kebuk sebenarnya bisa langsung setelah matang. Tapi, selama ini sate kebuk disajikan dengan irisan lontong. Lengkap dengan sambal kacang khas sate.‘’Kalau rasanya ya enak. Kenyal dan gurih. Pokoknya nggak kalah dengan sate ayam atau lainnya,’’ paparnya sembari menyebut juga menyediakan sate kapur (bagian jeroan yang berwarna putih).Bisa jadi apa yang dikatakan Sukiran benar. Sebab, selama ini pelanggan sate kebuknya bukan dari masyarakat biasa saja. Bahkan lebih banyak dari kalangan menengah ke atas. Ada yang pengusaha dan ada juga pejabat.

Setiap hari Sukiran menyiapkan sedikitnya 200 tusuk sate. Jika lagi ramai, biasanya jumlahnya ditambah. Terutama ketika mendapat pesanan.Untuk harganya satu porsi sate kebuk plus lontong Rp 13 ribu. Sedangkan untuk sate kapur plus lontong Rp 11 ribu.‘’Baru saya naikkan harganya Lebaran lalu. Sebelumnya harga sepuluh tusuk sate kebuk hanya Rp 6 ribu dan sate kapur hanya Rp 5 ribu,’’ paparnya.Setiap hari Sukiran berjualan sate kebuk di Jalan Subali dengan rombong kuning yang sudah puluhan tahun. Dia mulai jualan sekitar pukul 14.00 hingga habis.Jika kelewat capek atau ada acara, Sukiran memilih libur. Karena usianya yang sudah tua, kini dia dibantu anak bungsunya berjualan.

 

Source pegimakan.id www.google.co.id
Comments
Loading...