pegimakan.id

Warung Babe, Di Gemari Banyak Kalangan, Kuliner Padang

Warung Babe

Mendirikan warung makan di Sumatra Barat, khususnya di Padang, tentu harus paham lidah masyarakat kebanyakan. Lazimnya, lidah masyarakat Minangkabau harus dimanja dengan masakan pedas yang sarat dengan santan yang sangat kental. Namun, Aidil Makruf ,atau yang dikenal sebagai Babe, membangun warung makan yang lari dari standar tersebut.

Warung Babe yang dibangun  pada 2000 silam, mencoba berdiri di antara tren masakan pedas dan berlemak. Warung yang berada di Jalan Ujung Gurun No. 156 Padang ini sangat digemari banyak kalangan karena memiliki menu-menu makanan berat/ringan yang unik, dan bercita rasa. Terbukti, setiap hari  Pemilik dan karyawannya kewalahan menerima pengunjung. Warung tak bersantan itu sabana kayun (laris manis)

Pemilik (Babe) menuturkan Pilihan untuk membuka warung makan tanpa santan ini karena ia melihat di Sumbar masakan khas Minangkabau sudah terlalu banyak. Banyaknya warung makan Minang ini meninggalkan celah untuk digarap. Dengan melakukan riset kecil-kecilan, ia mendapatkan kesimpulan, masyarakat membutuhkan cita rasa baru dalam bersantap. Inilah yang kemudian membuatnya yakin untuk membuka usaha rumah makan yang tanpa ada kandungan santan sedikit pun. “Kami mencoba mempelajari kebutuhan masyarakat. Sebagain memang tak bisa lepas dari masakan Padang yang berkuah kental dan didominasi daging berkolesterol tinggi. Namun, ternyata sebagian lain membutuhkan menu baru yang menyegarkan,” ujarnya.

Bagi Babe, jika ia nekat mendirikan warung makan yang sama dengan warung makan padang yang konvensional, ia bisa tertinggal karena kurang mahirnya memasak makanan bersantan. Kekurangmahiran ini juga menjadi alasan mengapa ia harus memutar otak untuk menemukan celah usaha yang berbeda.

Pada awal berdiri, Warung Babe memang sepi pengunjung. Masyarakat umum ternyata belum bisa cocok dengan jenis makanan yang didominasi sayur tumis, sayur asam tersebut. Namun pelan-pelan, kata Babe, masyarakat mulai menyukai menu yang disediakannya. “Pada tahun awal berdiri, diakui, kami kesulitan untuk meneruskan usaha. Kami sempat ingin mengubah segmen usaha, namun entah mengapa, kami yakin cara yang kami pilih sudah tepat,” ujar Riky Indra Putra,anak sulung Babe, yang memutuskan untuk meneruskan usaha keluarga tersebut.

Riky, lulusan salah satu perguruan tinggi di Padang yang tidak ingin bekerja di sektor formal. Ia memutuskan untuk meneruskan usaha keluarganya karena melihat usaha ini cukup menjanjikan.

Kini, Warung Babe tidak pernah sehari pun sepi pengunjung. Dalam sehari, pendapatan Warung Babe tidak kurang dari Rp4 juta. Artinya, dalam sebulan omset di atas Rp100 juta. Angka ini cukup untuk menunjukkan setiap hari pengunjung warung ini tak terhitung jari.

Awal memulai usaha, Babe bukanlah pengusaha yang sesukses hari ini. Sebelum memutuskan untuk hijrah dari Jawa bersama keluarganya, dan membuka warung pada 2000, Babe merupakan seorang sopir di Jakarta. Pekerjaan ini dirasa tidak lagi menjanjikan. Ia pun hijrah ke Padang dan membuka warung kecil. “Awalnya Babe sopir. Besarnya kebutuhan, membuat Babe nekat ke Padang dan memutar otak untuk berwirausaha. Untungnya warung ini berjalan baik,” kenangnya.

Baiknya perkembangan usaha Warung Babe ternyata tercium Bank BNI. Pihak Bank pun menawarkan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) kepada Babe. Ini disambut baik, Babe pun segera melebarkan usahanya dengan menambah fasilitas warungnya. “Diakui, bantuan program KUR melonjakkan penghasilan warung,” kata Babe.

Wakil Pimpinan BNI Sentra Kredit Padang, Erisman mengatakan, Babe layak mendapat KUR karena usahanya sangat potensial. Meski pun tergolong usaha kecil, jika dikelola dengan baik, usaha ini bisa menjadi besar suatu saat.

Entah karena dengan bantuan KUR atau karena kelihaiannya melihat peluang, kini Babe kerap tersenyum lega karena sudah memilih untuk tidak menambhakan santan pada masakan warungnya.

Alamat : Ujung Gurun No.24b, Ujung Gurun, Padang Bar., Kota Padang, Sumatera Barat

Source Pegimakan warungbabe
Comments
Loading...