Jenang Alot Kenep, Jajanan Andalan Sukoharjo Jawa Tengah

Jenang Alot Kenep,

Pantaslah Desa Kenep dijuluki desa wisata kreatif. Hampir setiap rumah, memiliki usaha industri rumah tangga untuk menopang ekonomi keluarga. Ada perajin krupuk rambak, karak, batik, tenun, telur asin, emping, dan yang paling dikenal perajin jenang alot.Penasaran dengan rasa jenang Desa Kenep, saya mendatangi salah satu tempat pembuatan jenang. Tampak seorang bapak paruh baya sedang mengaduk adonan jenang alot di kuali yang mampu menampung 70 kilogram. “Sudah dari jam sepuluh saya ngaduknya, sejam lagi baru tanak,” ujar Muji Hartono (60), pria pengaduk adonan itu. Muji mengambil centong dan mengambil adonan coklat tua dari kuali. Dengan alas plastik, ia memberi kami jenang yang masih penuh kepulan asap. Sementara kami menyicipi legitnya jenang khas Kenep itu, sayup sayup terdengar adzan dhuhur berkumandang. Itu tandanya Muji sudah mengaduk jenang selama dua jam.

Warna dan bentuknya, sama persis dengan jenang kudus yang sering kita jumpai. Soal rasa, jenang buatan orang Kenep juga tak kalah lezat. Hanya saja, kemasan jenangnya masih sederhana. Jenang dicetak dalam persegi ukuran 24cmx 24cm x 5cm kemudian dibungkus plastik bening, tanpa label dan packaging khusus seperti jenang kudus. Dengan bungkus yang sederhana itu, jenang mampu bertahan kurang lebih seminggu.Jenang sudah menjadi bagian tradisi masyarakat Solo. Dalam acara hajatan keluarga, jenang sering disajikan sebagai penganan. Di saat itulah, para perajin jenang mendapat keuntungan melimpah. “Selain pas hajatan, biasanya musim lebaran jenang itu ramai,” aku Prapto (61) salah satu perajin jenang. Pria pemilik Jenang Karunia ini bahkan memperoleh omzet 10 juta rupiah saat musim lebaran.Di hari-hari biasa, permintaan jenang memang sedikit sepi. “Jenang itu kan identik sama orang tua,” kekeh Prapto. Sembari menunjukkan dapurnya, Prapto mengenang kejayaan jenang. Katanya, sebelum marak penganan dengan bungkus warna-warni, jenang menjadi primadona. Namun, Prapto dan perajin jenang lainnya tidak putus asa. Untuk menarik pembeli, Prapto yang mewarisi usaha ayahnya itu menciptakan variasi rasa jenang, seperti jenang rasa jahe, nangka, durian, dan wijen. “Memang tidak setiap kali buat sih, hanya kalau ada pesanan,” tutur Prapto.

Usaha jenang milik Prapto memang sudah mendapat perhatian dari pemerintah. Beberapa kali para perajin jenang di Desa Kenep melakukan studi banding ke beberapa sentra jenang seperti Garut dan Kudus. Selain itu, produk jenang milik Prapto juga sudah memiliki P-IRT dari dinas . “Dari cara dan bahan yang mereka gunakan sama. Kalau masalah rasa sebelas dua belas dengan jenang kudus,” aku Prapto. Di Desa Kenep sendiri terdapat 15 perajin jenang yang rasanya patut diacungi jempol.

Tidak ada resep spesial dari jenang Kenep. Jenang alot hanya dibuat dari tepung beras, tepung beras ketan, santan dan gula merah. Untuk satu adonan misalnya, Prapto membutuhkan 6 kg tepung beras ketan, 12 kg tepung beras, 20 kg gula merah, dan santan dari kurang lebih 45 butir kelapa.Semua adonan tersebut dimasak dalam tungku sekitar tiga jam. Dalam proses memasak, jenang harus diaduk tanpa henti dengan tenaga manusia. “Sebenarnya ada mesin pengaduk jenang, tapi harganya mahal dan hanya menampung sedikit adonan. Sedang kuali yang saya gunakan mampu menampung 70 kg adonan,” terang Prapto. Itu sebabnya Prapto dan para perajin jenang tetap mempertahankan cara tradisional. Jenang bikinan Prapto tidak dicampuri zat pengawet. Meski begitu, Jenangnya mampu bertahan sebagai oleh-oleh ke Sumatera.Ingin menyicipi jenang dari Desa Kenep? Cobalah cari di pasar tradisional di Sukoharjo. Kebanyakan perajin menjual jenangnya di sana. Jenang dengan ukuran 24cmx 24cm x 5cm atau setara dengan 3 kg dihargai Rp40.000. Kalau menghendaki harga yang lebih miring, datang langsung ke Desa Kenep, Kecamatan Sukoharjo. Prapto biasanya memberi harga spesial bagi pembeli yang datang langsung ke rumahnya

Source .blog.uns.ac.id
Comments
Loading...