Angkringan Tuli “Madre” Jogja, Beri Sensasi Interaksi Tersendiri

Angkringan Tuli “Madre”

Deaf Art Community (DAC) Yogyakarta memulai wadah usaha baru dengan konsep angkringan. “Madre”, nama bidang usaha angkringan tuli, telah dibuka pada Sabtu 20 Desember 2014 bertempat di Kampung Wisata Kuliner, Pringwulung, Depok, Sleman, Yogyakarta . Angkringan “Madre” buka setiap hari pukul 17.00 sampai dengan pukul 21.00 WIB.

Angkringan Madre menawarkan sajian menu di antaranya kopi mata-mata, makanan angkringan, dan roti tangkep. Madre menawarkan kekhasannya berupa budaya tuli yang sangat kental melalui interaksi dengan kru angkringan yang mayoritas adalah tuli dengan bantuan seorang juru bahasa isyarat. Para remaja tuli yang mengelola angkringan tuli tersebut diantaranya Rizki Darmawi, Riski Purna Adi, Stephanie Kusuma Rahardja, Lia, Ahmad Robby, Arief Wicaksono, dan Indra Kurmala. Dua orang humas akan bersinergi dalam memasarkan akringan tersebut, dua orang tersebut adalah Broto Wijayanto yang tak lain pendamping DAC Yogyakarta dan IAmung, salah seorang pengusaha suplier makanan di Yogyakarta.

Pada saat Ulang Tahun ke-10 DAC, Minggu Malam (28/12/2014), Broto Wijayanto menuturkan, “Angkringan tuli merupakan salah satu cara menciptakan lapangan kerja untuk tuli. Ide ini muncul karena melihat para remaja tuli yang setelah lulus sekolah atau kuliah tidak tahu mau apa? Mau bekerja apa, di mana? Akhirnya ide yang sudah lama ada disambut baik oleh ibu Amung, salah seorang pengusaha makanan yang memiliki perhatian khusus terhadap kawan-kawan tuli di DAC Yogyakarta.”

“Madre berasal dari bahasa Italia yang berarti ibu, telah menjadi filosofi dalam pengembangan usaha tersebut. Harapannya, usaha ini akan menjadi ibu yang dapat mengayomi kelangsungan kehidupan masa depan para remaja tuli,” lanjut Broto.

“Pemilik tempat ini adalah ibu Amung, kawan-kawan tuli menggunakannya sebagai tempat belajar bekerja dengan memilih jenis usaha angkringan, kopi dan kedai, dan roti tangkep. Dan ini adalah Madre ke satu yang akan ada Madre dua, Madre tiga dan selanjutnya,” tambah Broto.

Di akhir bincang-bincang Broto menyampaikan, “Tempat ini dibagi dua sensasi ruangan, yaitu outdoor dan indoor. Pengunjung dapat memilih ruangan sesuai dengan selera dan sensasi yang ingin dinikmati. Dengan kapasitas 50 – 60 pengunjung, Madre Angkringan Tuli dapat digunakan sebagai tempat untuk pertemuan. Silahkan mengunjungi Madre Angkringan Kopi, menikmati sensasi dan berinteraksi sambil belajar budaya tuli,” pungkasnya.

Source https://www.solider.id
Comments
Loading...