Asyiknya Menikmati Kue Kembang Waru,Cemilan Khas Jogja

Kue Kembang Waru

Jogja tak hanya kota budaya, di setiap sudutnya seolah selalu memiliki pesona yang tak ada duanya. Kotagede misalnya. Di kota penghasil berbagai olahan perak ini memiliki beragam pesona kuliner yang unik. Salah satu yang hampir terlupa adalah kue kembang waru. Seperti namanya, kue ini memiliki bentuk seperti bunga waru. Pohon waru adalah jenis pohon yang dulunya masih banyak terdapat di Jogja. Apa cerita menarik dibalik kuliner tradisional yang satu ini? Yuk simak info menariknya berikut ini!

Di masa kejayaannya dulu, kue ini merupakan makanan mahal yang dikonsumsi oleh kalangan ekonomi atas. Kehadirannya pun hanya di waktu-waktu tertentu saja seperti di acara pernikahan kaum kelas atas. Namun seiring dengan berjalannya waktu, pamor salah satu kue tradisional ini tak sejaya dulu lagi. Kue yang dijual sekitar seribu rupiah saja ini kini hadir dalam berbagai hajatan warga pribumi seperti acara arisan dan pengajian.

Untuk bertemu dengan kuliner yang satu ini, Anda harus blusukan di kawasan Kotagede. Bagaimana tidak, kue ini kini termasuk camilan yang langka. Kehadirannya pun belum dapat ditemui di berbagai supermarket yang kini banyak bermunculan di banyak sudut kota. Jika Anda ingin menikmati kue kembang waru, namun Anda belum sempat untuk meluangkan waktu berlibur, bereksperimen di dapur dapat menjadi alternatif menarik untuk dilakukan. Selain dapat mencicipi kelezatannya, kegiatan ini dapat dijadikan ajang pelestarian resep warisan nenek moyang bukan?

Tak sulit ternyata menyiapkan bahan untuk camilan tradisional yang satu ini. Anda cukup menyiapkan telur, tepung terigu dan margarin. Membuatnya pun terkesan sangat mudah. Pertama kocok telur sampai agak kaku, lalu masukkan tepung secara perlahan, aduk rata. Setelah adonan jadi, masukkan ke dalam cetakan berbentuk kembang waru yang sebelumnya telah diolesi dengan margarin. Salah satu keunikan dari kue tradisional ini adalah cara memanggangnya yang kebanyakana masih menggunakan tunggu kayu bakar sehingga kue menjadi “tanak” atau matang sempurna. Kue ini nikmat disajikan hangat-hangat, apalagi ditemani dengan teh “leginastel”, sebutan untuk teh manis panas dan kental. Menyenangkan bukan berlibur sembari melestarikan warisan kuliner nenek moyang? Ayo ke Kotagede lagi!.

Source http://yogyakarta.panduanwisata.id
Comments
Loading...