Bakso Pak Kumpeno, Pelopor Bakso Bertopping Jeroan di Jogja

Bakso Pak Kumpeno

Jajanan bakso kini mulai marak dengan ragam ciri khasnya. Tak terkecuali Bakso Pak Kumpeno yang menjadi pelopor bakso bertopping ‘jeroan’ di Yogyakarta.

Rupanya, menambahkan ‘jeroan’ ke dalam hidangan bakso ini murni ide dari Kumpeno (56) sendiri.

Awalnya ia mengakui baksonya cenderung biasa saja dibanding bakso-bakso lain, karenanya ia menambah topping agar hidangannya tampak spesial.

Benar saja, potongan paru yang digoreng garing seperti kripik ini memberikan cita rasa tambahan pada baksonya.

Sebelum dihidangkan, paru ini diproses dengan tahapan yang cukup rumit. Pertama, paru direbus, dipotong kemudian digoreng hingga minyak tidak berbuih.

Tahapan menggoreng pun tidak bisa dianggap remeh. Jika terlalu cepat ditiriskan, maka paru masih terasa amis. Sedangkan jika digoreng terlalu lama, paru akan gosong dan terasa pahit. Proses memasak paru ini pun memerlukan waktu satu jam.

”Dalam sehari bisa habis 30 kilogram paru, padahal satu ekor sapi kira-kira hanya punya 2 kilogram paru, sehingga saya bisa butuh 15 ekor sapi untuk diambil parunya. Parunya sendiri saya ambil dari pedagang-pedagang daging di pasar-pasar tradisional,” ujarnya.

Memiliki ciri khas topping paru ini rupanya menyisakan hambatan besar lantaran bahan paru ini sulit didapat.

Apalagi setiap lebaran, ia terpaksa berjualan bakso tanpa menyediakan paru karena tidak ada pedagang yang menjual paru di pasar.

Sebelum sukses memiliki tiga warung bakso, Kumpeno menjajakan baksonya dengan metode pikul dari daerah Soragan hingga Jalan Godean sejak tahun 1977.

Himpitan ekonomi memaksanya berjualan bakso dengan memikul beban hampir setengah kwintal setiap hari mulai pukul 12.00 hingga 00.30 dini hari.

Kemudian sekitar tahun 1980, ia menggunakan gerobak ronde untuk berjualan bakso di daerah Jalan Godean km 5.

Setelah berjualan dengan cara mendorong, bapak dua anak ia pun memberhentikan gerobaknya dan berjualan dengan tenda.  Ia pun mengontrak sebuah rumah tak jauh dari lokasinya berjualan mulai tahun 2000 hingga kini.

Kini, Bakso Pak Kumpeno memiliki tiga cabang, yakni di Soragan, Jalan Godean km 5 dan Jalan Godean km 9 yang beroperasi mulai pukul 11.00 hingga 19.00 WIB.

Dari ketiga warungnya tersebut, ia mengaku mampu menjual kurang lebih 1000 mangkok setiap seharinya. Khusus di Jalan Godean km 5, pengunjung bisa mencicipi topping babat iso, tulang muda hingga koyor.

”Dulu pertama jual bakso harganya Rp 20, kemudian Rp 90, Rp 200 hingga kini Rp 10 ribu per mangkok,” kenang pria asal Solo ini.

Sekarang, meskipun sudah dibantu oleh 11 karyawan, ia mengaku belum mau membuka cabang baru.

Di usia yang tak lagi muda, ia masih kerap membuat bakso, melayani pelanggan hingga mencuci piring pelanggannya sendiri.

Source http://jogja.tribunnews.com
Comments
Loading...