Café Trio-G,Menu Ikan Bakar Ala Pesisir Rembang Jawa Tengah

Di pertengahan jalur Semarang-Surabaya, tepatnya di Desa Kalipang, Sarang, — kota kecamatan di ujung paling timur Kabupaten Rembang — ada satu warung makan berkonsep kampung di atas air, dengan menu andalan berupa ikan bakar dan kelapa muda (degan) bakar. Letaknya persis diapit jalan pantura dan Laut Jawa, berseberangan jalan dengan kompleks masjid kuno peninggalan Wali Blitung.

Sebagai tambahan, menurut cerita getok tular yang beredar di masyarakat setempat, artefak monumental ini dibangun oleh seorang wali dari Pulau Belitung. Dan tempat peribadatan ini adalah masjid pertama yang berdiri di daerah Sarang, yang tahun pembuatannya bertuliskan 1484 M, seperti yang tertera pada tugu prasasti. Tema kampung di atas air nyata saat kita memasuki ruang makan, berupa saung-saung dengan struktur rangka

dari bahan kayu kelapa (glugu), beratapkan rumbia padi, yang “nangkring” di atas areal tambak kepunyaan Bu Yuyun, nama pemilik café ini. Kalau beruntung, saat menyantap makanan yang disajikan, kita bisa menyaksikan ikan bandeng yang bermunculan di permukaan air. Di kanan kiri, nuansa alam diisi hamparan tambak bandeng dan udang, diseling vegetasi pohon nyiur dan hutan bakau serta kampung nelayan yang tertata rapi.

Mengesankan sebuah warung makan lesehan yang sederhana namun cukup asri dan nyaman, kental dengan nuansa alam pedesaan daerah pesisir.Karena kemasyhuran lokal akan menu ikan bakar dan degan bakar, kedua “obyek jualan” inilah yang aku pesan. Untuk jenis ikannya bisa kita pilih mulai ikan kerapu, baronang, bawal atau kakap. Meski dalam daftar menu yang disodorkan kepada pengunjung, bukan hanya terbatas sajian andalan di atas. Selainnya ada ikan goreng, cumi bakar/goreng, udang bakar/ goreng,

ayam bakar/ goreng atau menu sederhana, semisal mi rebus atau mi goreng. Sedangkan, untuk minumannya, tidak banyak macamnya. Di luar degan bakar atau degan original, cuma disediakan teh manis, jeruk manis atau minuman ringan lainnya. Tidak perlu menunggu lama, ikan bakar terhidang. Aromanya begitu menggelitik hidung, disebar hembusan angin laut yang kencang mendera kami saat itu. Terlebih cara penyajiannya menggunakan peralatan makan tradisional, yakni piring bambu yang dilembari daun pisang dan cobek tanah liat tempat sambal dihidangkan, semakin menggugah selera makan penyukanya.Ikan kakap bakar berlumur bumbu kecap hasil racikan rempah-rempah nusantara.

Begitu menggoda untuk dicicipi. Untuk sambal disediakan dua pilihan, disesuaikan dengan kemampuan indra pengecap, yakni sambal terasi nan pedas mengguncang lidah serta sambal kecap manis yang ditaburi irisan bawang merah, buah tomat dan cabe rawit. Sebagai lalapannya, terdiri dari mentimun, kol, kacang panjang dan daun kemangi. Nasi putih yang pulen serta hangat, begitu klop sebagai penyempurna sajian makan siang kali ini. Sebuah sajian sempurna yang layak dimasukkan khasanah kuliner kota garam, Rembang. Mantap tenan…

Source https://didiksalambanu.wordpress.com/
Comments
Loading...