Es Cendol Elizabeth Minuman Segar Yang Melegenda di Bandung

Para penggemar kuliner khas Bandung, Jawa Barat, tentu pernah mencicipi Es Cendol Elizabeth yang melegenda tersebut. Minuman legit dengan rasa manis itu terasa menyegarkan saat disantap, terutama saat berbuka puasa di bulan Ramadan seperti saat ini.

Es Cendol Elizabeth memang salah satu pilihan takjil untuk berbuka puasa. Tak mengherankan bila es cendol ini selalu diburu warga, baik dari dalam maupun luar Bandung. Saking terkenalnya, banyak penjual yang menjajakan es cendol serupa di beberapa wilayah di Kota Bandung. Namun, tak banyak pelanggan yang mengetahui sejarah Es Cendol Elizabeth.

Adalah Haji Rohman yang merintis usaha minuman manis segar tersebut. Dia dibantu anak-anaknya dalam mengelola usaha yang dirintisnya sejak 1972 ini. Nur Hidayah, putri kedua Haji Rohman, bercerita sang ayah semasa kecil sudah harus membantu perekonomian keluarga. Rohman yang ketika itu baru duduk di bangku kelas 2 SD ditinggal sang bapak. “Awalnya, bapaknya Bapak (Rohman) meninggal, waktu itu masih tinggal di Pekalongan. Kehidupan di desa kan tak menentu hanya kerja tani. Sementara Bapak itu anak laki-laki satusatunya jadi tumpuan keluarga,” ucap Nur.

Ketika itu Rohman diberitahu ibunya bahwa ada seorang pamannya yang berjualan es cendol di Bandung. “Merantaulah Bapak dan ikut pamannya berkeliling jualan cendol,” tutur Nur.

Merintis Usaha Sendiri

Toko Es Cendol Elizabeth di Jalan Inhoftank No 64, Kota Bandung, selalu ramai diserbu warga baik dari dalam maupun luar kota. Dari membantu paman, Rohman diberi uang jajan. Uang itu tidak pernah dipakai Rohman untuk sendiri, malahan dikirim ke kampung buat membantu adik-adiknya yang sekolah. “Kalau ada uangnya lebih sedikit dikumpulin,” ia menambahkan.

Uang yang terkumpul itu kemudian dibelikan roda hingga keperluan lainnya untuk berjualan. Setelah punya roda sendiri, Rohman baru bisa keliling berjualan cendol. Dulu, Rohman memulai berjualan di kawasan Leo Genteng, Astana Anyar, Kota Bandung.

Setelah berkeliling, Rohman selalu memarkirkan jualannya ke sebuah rumah di Jalan Ciateul. Rumah tersebut kelak bakal menjadi titik awal dimulainya usaha cendol milik Rohman.
Sang empunya rumah bernama Elizabeth adalah langganan tetap Rohman. Menurut Nur Hayati, Ibu Eli pada waktu itu masih bekerja di toko tas. “Kalau sudah berkeliling Bapak mangkalnya selalu di depan rumahnya Bu Eli. Bapak juga sering bantu kalau Bu Eli pulang kerja, belanjaannya dibawain,” ucap Nur.

Suatu waktu, Bu Eli pulang ke rumahnya membawa tas sisa yang masih bisa dijual kembali. Melihat Rohman berjualan di depan rumah, Bu Eli menitipkan tas-tas sisa kepada Rohman untuk dijual. Rohman yang tidak lulus SD ragu bisa menjual tas. Namun, Bu Eli tidak memaksa, berapa pun barang yang laku ia terima.
Beli Tas Gratis Es Cendol

Toko Es Cendol Elizabeth di Jalan Inhoftank No 64, Kota Bandung, selalu ramai diserbu warga baik dari dalam maupun luar kota. Rohman sempat mengeluh karena beberapa pembeli tas memaksa jika beli tas, maka cendolnya gratis. Meski ia sudah jelaskan bahwa tas yang dijualnya adalah barang titipan. Karena itu, ia pun melapor kepada Bu Eli dan tetangganya itu pun mengganti cendol yang diminta pembeli tas.

Bu Eli kemudian membeli sebidang tanah untuk dijadikan toko usaha jual tas. Toko itu dinamai Toko Tas Elizabeth yang berada di Jalan Ciateul (sekarang Jalan Ibu Inggit Garnasih) No 15. Sampai menjadi toko, Rohman masih mangkal di situ. “Dulu sering ada tamu datang suguhannya cendol milik Bapak,” kata Nur.

Source Pegimakan.id liputan6.com
Comments
Loading...