Garang Asem Endhas Manyung Pak Joko

Garang Asem Endhas Manyung Pak Joko

Di siang hari yang terik, di sebuah warung sederhana di Desa Mondokan, Tuban, Jawa Timur, para pembeli terlihat tengah asyik menikmati sajian garang asem endhas manyung yang dihidangkan. Mereka terlihat lahap menyantap kepala ikan berkuah. Sampai-sampai tak peduli segala hal di sekitar mereka. Itulah gambaran suasana sehari-hari di warung makan Garang Asem Endhas Manyung Pak Joko. Endhas manyung atau dalam bahasa Indonesia berarti kepala ikan jambal. Sehari-hari, warung itu memang dipenuhi pembeli, baik dari wilayah Tuban maupun pembeli dari Jakarta yang kebetulan tengah melintas di Tuban dan menyempatkan diri mampir untuk menikmati kuliner bercitarasa segar tersebut.
Garang asem endhas manyung memang hanya menggunakan bagian kepala ikan jambal, sedangkan bagian lain lebih banyak diolah sebagai ikan asin. Ikan asin jambal sendiri memang terkenal karena dagingnya yang tebal dan empuk. Nah, bagian kepalanya kemudian dijual terpisah dengan dibuat menu endhas manyung. Ikan manyung yang dimasak garang asem itu biasanya ikan berukuran besar. Ada 3 ukuran ikan jambal yang dijual di pasaran, yakni ukuran kecil yang per kepala beratnya mencapai 0,5 kilogram, ukuran sedang dengan berat 1 kilogram, dan yang paling besar atau jumbo berukuran berat sekitar 1,5 kilogram. Harganya, yang paling kecil Rp 35.000, ukuran sedang Rp 60.000, dan Rp 80.000 untuk yang jumbo.
Meski yang dimasak hanya bagian kepala, jangan dikira isinya cuma tulang belulang. Di sela-sela bagian tulang, terdapat cukup banyak daging. Justru asyiknya makan kepala ikan itu karena menggerogori daging lembut di antara tulang-tulangnya. Saking ramainya, sehari-hari warung ini bisa menghabiskan sekitar 2 kuintal kepala ikan segar yang dipasok dari para nelayan Tuban dan Brondong, Lamongan, Jawa Timur. Khusus untuk hari Sabtu dan Minggu pasokannya lebih besar lagi, sebab pembeli yang datang juga makin banyak.
Kenapa garang asem di warung Garang Asem Endhas Manyung Pak Joko menjadi jujugan paling favorit di antara para penjual garang asem kepala manyung lainnya ? Ada beberapa alasan. Pertama, ikan yang dimasak di warung ini selalu ikan segar yang baru didapat dari para nelayan. Kedua, ikan pada racikan garam asem yang disajikan tidak dimasak pagi hari atau sebelum warung buka, tetapi dimasak begitu pembeli datang. Jadi, di pagi hari hanya membuat kuahnya saja. Begitu ada pembeli, baru kepala ikan dimasak bersama kuah dan disajikan dalam keadaan panas. Pembeli pun tidak perlu menunggu lama. Hanya 15 menit. Dalam satu kali memasak, hanya dibuat untuk empat sampai lima porsi. Kalau ada pembeli yang datang lagi, baru dimasak lagi, begitu seterusnya. Inilah yang membedakan masakan di warung lain yang biasanya kepala ikan manyung sudah dimasak sejak pagi hari.
Soal bumbu, sebenarnya tidak ada yang istimewa, bahkan antara warung yang satu dengan warung lainnya hampir sama, yakni bawang merah dan bawang putih, cabai, kunyit, lengkuas, serta asam segar. Hanya saja takaran satu warung dengan yang lain pasti berbeda. Perbedaan itulah yang membuat cita rasanya menjadi berbeda pula.
Source http://kulinerbangsakoe.blogspot.com/ http://kulinerbangsakoe.blogspot.com/2017/12/menikmati-kuliner-tuban-dari-kepala.html
Comments
Loading...