Joneng, Nasi Kuning Khas Majalengka Terkenal Sejak 1960

Tak hanya dikenal dengan produksi mangga atau kecap. Namun juga memiliki kuliner yang cukup banyak, salah satunya adalah nasi kuning di Tonjong, atau lebih dikenal dengan sebutan joneng di Kelurahan Tonjong, Kecamatan Majalengka.

Joneng yang terkenal ini tempat jualannya sejak tahun 1960 hingga sekarang hanya di Perempatan Tonjong, dekat lampu merah.

Joneng yang berasal dari singkatan kejo koneng ini baru mulai berjualan pada sore hari mulai pukul 16.30 WIB hingga tengah malam bahkan di tahun 1970 hingga tahun 1990 an pedagang joneng ini berjualan hingga pagi hari menjelang subuh.

Jadi bagi yang merasa lapar saat malam hari atau tengah malam, bisa datang ke perempatan Tonjong, di sana ada makanan khas joneng dengan sate jeroan yang khas dan sate kentang, lengkap dengan aneka gorengan dan bajigur.

Joneng tonjong ini khasnya dibungkus kecil menggunakan daun pisang dan dirangkap dengan kertas koran, di bagian atas joneng hanya dibubuhi bawang goreng.

Bungkusannya kecil-kecil, saking kecilnya bungkusan joneng jika mengukur dengan ukuran suap paling hanya untuk tiga atau empat suap ukuran makan laki-laki dewasa atau empat sendok saja. Namun anehnya, banyak yang makan nasi joneng ternyata bisa kenyang hanya dengan makan satu bungkus atau dua bungkus joneng.

Makan joneng ini dipadu dengan sate jeroan yang dipasak kuning campur bumbu kelapa dan gorengan tempe serta sate kentang. Belakangan setelah muncul telur puyuh juga ada sate telur puyuh dan aneka gorengan lainnya.

Menurut Uus dan Meme Miharja, warga Tonjong, joneng ini mulai ada sekitar tahun 1960, perintisnya adalah Enes, Salim dan Ati, sekarang diteruskan oleh generasi ke dua. Tempat jualan mereka pun masih tetap sama di Perempatan Tojong, yang beda hanya cara menjajakannya.

Kalau dulu menggunakan meja kecil dan bangku kayu cukup untuk beberapa orang, sedangkan sekarang tempat duduk bangku panjang, cukup untuk 10 orang duduk. “Dulu kalau lapar tengah malam atau ingin nongkrong dengan teman-teman ya tempat nongkrongnya di tempat joneng itu.

Harganya murah dulu hanya Rp 25 per bungkus. Sekarang harganya Rp 1.000 per bungkus,” ungkap Meme. “Bungkusannya kecil, harganya serba murah, namun meski bungkus kecil tapi mengenyangkan. Kalau membawa teman jajan bisa sangat hemat,” tambahnya.

Senada disampaikan Hendi yang mengaku sejak kecil biasa jajan joneng bersama dengan sejumlah temannya. Kebiasaan makan joneng dilakukan hingga sekarang setelah menjalani masa pensiun.

Menurutnya, dulu di perempatan Tonjong ini selain ada yang berjualan joneng juga ada sate kambing, yang pedagangnya kini generasi ke dua juga. Sate ini lengkap dengan gulenya dan lontong serta nasi putih.

Wawan, salah seorang pedagang joneng mengatakan, dirinya adalah penjual joneng generasi ke dua setelah bapaknya, Salim, meninggal. Setiap harinya kini dia menghabiskan beras untuk joneng sebanyak 5 kg. Untuk sate jeroan atau babat, katanya, sejak dulu dikirim dari pihak lain demikian juga dengan sate kentang.

Hanya untuk pembuatan gorengan seperti goreng kentang, bala-bala, pisang goreng atau tempe goreng tepung dia menghabiskan terigu hingga 7 kg. Karena beda suasana, menurut Wawan, dia kini hanya berjualan mulai sore hari hingga pukul 01.00 dini hari.

Selain barang dagangan habis juga pembeli setelah lewat pukul 01.00 mulai sepi.Demikian halnya dengan Uus penjual sate kambing, dia pun membatasi berjualan hanya sore hari hingga tengah malam saja.

Source Pegimakan.id Kabar-kuliner.com
Comments
Loading...