Enaknya Kambing Perawan Sate Ayu Bojonegoro Jawa Timur

Sate Kambing

bakarannya sudah menggoda selera. Dan, ketika sate kambing itu terhidang, giliran selera kita yang terbakar. Itulah Sate Ayu di Bojonegoro, Jawa Timur, yang menggunakan daging kambing betina usia 6-7 bulan. Tarmuji, pemilik rumah makan, menyebutnya sebagai ”kambing perawan”.Pengalaman hampir 50 tahun di dunia persatean menjadikan Tarmuji tahu benar cara menghidangkan sate kambing untuk memanjakan selera penikmat sate lewat Sate Ayu. Sate Ayu Bojonegoro direkomendasi oleh sejumlah rekan pemburu santapan lezat. Letaknya di Jalan Waduk Selorejo, Banjarjo, Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro.

Posisi warung persis berada di sebelah pintu kereta jurusan Surabaya-Jakarta. Jika kereta lewat, bunyi sinyal dan getaran deru besi melindas rel terasa sampai di dalam warung. Bersamaan dengan itu, terasa pula getaran rasa kambing betina yang tengah melumer di rongga mulut bersama cocolan sambal cabe dan kecap manis-manis gurih.Sate Ayu disajikan seperti sate kambing pada umumnya. Sate disantap dengan kecap dan ulekan cabe rawit. Cabe rawit jenis jempling yang digunakan memberi rasa pedas yang cukup ramah, tidak menyiksa lidah. Di antara manis gurih pedas itu bisa ditambahkan tetesan jeruk nipis guna memperkuat rasa. Ditambah lalap berupa irisan tipis bawang merah, kol, dan tomat, lengkaplah sudah ”ritual” mengganyang Sate Ayu.

ahun 1970, ia mulai mandiri berjualan sate di pasar ternak Padangan, Bojonegoro. Pagi menjadi jagal kambing, siang ia berjualan sate. Pengalaman sebagai jagal itu mengajarkan Tarmuji untuk pintar memilih kambing yang enak untuk sate. Ia memilih daging kambing betina yang tambun usia 6-7 bulan. ”Kami menggunakan kambing perawan. Daging kambing jantan biasanya keras dan bau prengus.” Adapun bagian kambing yang paling enak, menurut Tarmuji, adalah bagian lulur dan paha yang empuk.

Selain itu, cara bakar juga berpengaruh pada rasa. Sate Ayu menyediakan pilihan tingkat bakaran kering dan setengah matang. Ukuran api, pemerataan panas, akan berpengaruh pada tingkat kematangan. Menggunakan arang kayu sebagai bahan pemanas, Sate Ayu menggunakan cara manual dengan kipas bambu. ”Kalau pakai kipas angin, hasilnya akan brangas. Daging hanya kering di bagian luar, tapi mentah di dalam. Dengan kipas (manual), matangnya merata,” kata Bu Sih yang bertugas memanggang daging.

Tarmuji (63) mengaku tidak punya rahasia dalam pengolahan sate atau bumbu. Namun, pengalaman di dunia persatean sejak tahun 1966 memberi sentuhan tersendiri pada suguhan Sate Ayu. Tarmuji adalah anak turun penjual sate. Ayah dan kakeknya hidup dari sate kambing. Umur 15 tahun, Tarmuji mulai membantu pakde atau pamannya berjualan sate sebagai tukang tusuk. ”Selama empat tahun, mulai tahun 1966, itu saya belajar dari pakde,” kata Tarmuji yang ditemui di warungnya kala sedang mengiris-iris daging kambing.

 

Source pegimakan.id travel.kompas.com/
Comments
Loading...