Kantin Fitroh, Tempat Makan Favorit Mahasiswa di Jatinangor Sumedang

H Ade Nuryana (61), pemilik kantin Fitroh, Kantin Fitroh sudah berdiri di Jatinangor, Kabupaten Sumedang, lebih dari 20 tahun. Selama itu pula kantin yang didirikan pada 1993 ini menjadi andalan mahasiswa untuk mengisi perut.

Di kantin yang terletak di seberang gang masuk Hegarmanah, Jatinangor ini, siang hari suasana tempat makan legendaris di Jatinangor ini tampak tak berubah.

Aneka masakan dipajang di lemari kaca yang diletakkan di depan ruang kantin, lemari kaca tempat makanan rumahan tersebut ditutup kain tipis untuk menghindari masuknya serangga.

Beberapa kursi dan meja putih diletakkan di ruangan untuk makan, setiap meja dikelilingi empat kursi.

Di tembok, terdapat foto-foto besar keluarga H Ade Nuryana (61), pemilik warung makan. Ada foto keluarga, foto anak-anaknya sedang wisuda, dan lain sebagainya.

Pembeli di Kantin Fitroh ini kebanyakan mahasiswa Unpad, yang kampusnya hanya berjarak sekitar 500 meter dari kantin tersebut.

Dari awal, kantin Fitroh ditujukan untuk mahasiswa yang mengandalkan kiriman bulanan dari orangtua.

MENU:

  • Ayam Bakar
  • -Gepuk
  • -Pepes Ikan
  • -Aneka Juice
  • -Ayam Goreng
  • -Pepes Ayam
  • -Aneka Tumis Khas Nusantara
  • -DLL

H Ade Nuryana (61), pemilik kantin Fitroh, mengaku sudah biasa dengan mahasiswa yang tidak bisa membayar langsung makanannya alias berhutang, namun hal tersebut tidak pernah H Ade pikirkan.

Hal tersebut diungkapkan H Ade Nuryana di kantinnya yang terletak di seberang gang masuk Hegarmanah, Jatinangor, sebelah kanan dari arah Sumedang,

“Kalau masalah bayar atau tidak, bapak tidak mau pikirkan, biarkan saja lah,” ujar H Ade.

H Ade bercerita, dulu banyak mahasiswa yang kesulitan biaya dan bisa makan di kantin tersebut hanya dengan mencuci piring.

Alasannya membiarkan mahasiswa melakukan hal tersebut adalah karena H Ade mengerti kesulitan yang dialami mahasiswa di perantauan, terutama yang berkaitan dengan biaya.

“Bahkan banyak mahasiswa yang mengeluh uang makannya sebulan hanya sedikit, saya bilang sudah kasih ibu (istri H Ade) saja,” ujar H Ade.

Dengan uang berapapun yang diberikan pada istri H Ade, mahasiswa bisa makan tiga kali sehari selama sebulan.

Para mahasiswa, menurut H Ade, mengingatkannya pada anak-anaknya yang sebagian tinggal jauh.

Berkat hal tersebut, tak jarang ada mahasiswa yang datang lagi setelah lulus dan bekerja jauh dari Jatinangor.

Bahkan tak sedikit yang memberikan uang pada H Ade dengan nominal yang besar.

“Pernah ada yang memberi satu juta rupiah, ditanya untuk apa uang itu, katanya untuk bayar dulu sering mengutang di warung, saya jadi malu,” ujar H Ade.

Berkat Kantin Sederhana, H Ade Nuryana Sukses Menyekolahkan Anak Hingga Perguruan Tinggi

Meski hanya membuka sebuah kantin kecil di pinggir Jalan Raya Jatinangor, H Ade Nuryana (61) berhasil menyekolahkan empat dari lima anaknya hingga jenjang perguruan tinggi.

Bahkan seorang putranya berhasil menjadi nakhoda kapal laut yang membawa kapal hingga ke negeri matahari terbit.

Kisah H Ade Nuryana (61)

“Kantin yang saya punya memang segini-segini saja dari dulu, tapi cukup untuk membiayai keluarga saya,” ujar H Ade.

H Ade mengatakan, ia sengaja mendirikan sebuah tempat makan untuk mahasiswa dengan anggaran seadanya.

Namun setelah dibuka, kantin tersebut menjadi primadona karena harganya murah namun makanannya layak santap. “Tahun 1997 sampai 2010 itu ramai-ramainya mahasiswa makan di sini, sampai banyak yang pesan katering untuk acara-acara,” ujar H Ade.

Source Pegimakan.id Tribunnews.com

Leave A Reply

Your email address will not be published.