Kelezatan Geco Yang Hampir Punah

Kelezatan Geco Yang Hampir Punah

Pernah mendengar nama kuliner geco? mungkin generasi millennial tak pernah bertemu dengan makanan khas kota tauco, Cianjur ini. Meski Sempat menjadi favorit pada masanya, kini geco mencoba bertahan di antara maraknya tren kuliner.

Mari mengenal lebih dekat tentang makanan ini, geco merupakan akronim dari taoge dan tauco. Sekilas memang makanan ini mirip dengan kupat tahu, namun yang membedakan ialah bumbu utamanya yang menggunakan tauco yang dibungkus dengan daun pisang yang sudah tua.

Nantinya tauco akan ke dalam bahan lainnya seperti taoge rebus setengah matang, potongan telur rebus, mie aci (sejenis mie yang terbuat dari kanji), cuka lahang (cairan fermentasi dari pohon enau), kecap manis, dan sambal cabe rawit. Kelezatannya tak perlu ditanyakan lagi, apalagi ditambah kerupuk akan lebih nikmat disantap.

Memang geco tidak lagi menjadi primadona, terbukti hanya tersisa satu tempat yang masih menjual geco, yaitu “Geco Nusasari Pa Iding”, demikian tertulis di kaca gerobak. Lokasinya berada tak jauh dari pertigaan Jalan Siti Jenab dan Siliwangi, atau dekat Kantor UPJ PLN Cianjur Kota.

Iding merupakan pemilik warung sederhana itu, semua resep geconya merupakan warisan turun temurun dari kakeknya yang bernama Noedji. Hingga akhirnya Noedji tutup usia pada tahun 1947, kemudian usahanya dilanjutkan oleh salah satu anaknya yang bernama Abdurrahman atau biasa dikenal Mang Endul, bapak dari Iding.

Pada 1981, Mang Endul lalu membuat sejenis kedai sederhana di sekitar pertigaan Masjid Agung Cianjur. Hoki-nya pun terus berlangsung hingga ia wafat 19 tahun kemudian. Bisnis keluarga lalu dilanjutkan oleh Iding hingga kini.

Iding tak menjual mahal untuk satu porsi geco, meskipun makanan itu sudah langka ditemukan. Untuk satu porsi, Iding menjual hanya dengan harga Rp. 6 ribu. Jika pelanggannya ingin menambah dengan telur, harganya menjadi Rp. 8 ribu per porsi.

Peminat geco ini ternyata bukan saja dari kalangan orang-orang pribumi, para sinyo dan noni pun ikut-ikutan suka makanan tersebut.

“Makanya sekarang saya sering di datangi orang-orang Belanda. Rupanya mereka itu cucu atau cicit para sinyo dan noni tersebut. Mereka penasaran akan kelezatan geco seperti diceritakan para leluhurnya,” ujar Iding

Source http://ulinulin.com http://ulinulin.com/posts/kelezatan-geco-yang-hampir-punah
Comments
Loading...