Mie Goreng Ekonomis, Kuliner Legendaris Kepulauan Riau

Mie goreng ekonomis

Siapa yang tidak suka mi? Makanan yang diperkenalkan oleh Negeri Tirai Bambu ini sudah menjadi kuliner legendaris dan khas di berbagai negara. Ada beragam bahan baku untuk pembuatan mi. Mulai dari tepung kanji, telur, sampai inovasi terbaru adalah sayuran. Di tengah hiruk-pikuk perkembangan mi, ada satu yang sangat legendaris seakan tidak tergerus zaman, yakni, mie goreng ekonomis.

Asal mula mi ini adalah dari Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Nama mie ekonomis menjadi sebutan bagi para pelanggan setia karena harganya yang murah meriah, untuk rasa yang tidak biasa.

Pak Atio, pemilik dari Mie Goreng Ekonomis merupakan generasi kedua. Usaha kulinernya ini dirintis oleh sang ayah sejak ia masih kecil.

Saat ini, bisnis mi gorengnya memasuki generasi ketiga. Tidak heran bila mie ekonomis disebut legendaris. Diakuinya, soal rasa, tidak ada perbedaan sejak tahun 1965. “Saya generasi kedua. Lagi mengajarkan ke anak saya. Tidak ada yang berbeda dari tahun 1965 dengan sekarang. Gitu saja, kecap, tauge,” ucapnya bersemangat.

Untuk proses pembuatan, lanjut Atio, sejak dahulu ia selalu membuat mi sendiri. Mulai dari kwetiau yang dibuat dari tepung beras dan mi yang dibuat dari tepung kanji. Bahan-bahan untuk pembuatan mie goreng ekonomis ini cukup umum di pasaran. Seperti mi, kecap, bawang merah dan putih, tauge, lobak dan telur.

Yang membedakan adalah, proses pencampuran rasa pada setiap porsi makanan. Atio memilih untuk mencampurkan rasa, sesuai dengan keinginan pelanggan. “Rasanya gimana yang pesan. Kalau mau pedas ya saya tambahin, kalau mau manis saya tambahin kecap. Jadi setiap makanan yang dibuat tidak sama karena lidah orang beda-beda,” katanya.

Diakuinya, anak muda Tanjung Pinang sangat menyukai rasa yang manis. Terbukti dengan seringnya mereka memesan mie goreng dengan tekstur hitam pekat.”Anak muda Tanjung Pinang sukanya mie hitam paling banyak kecapnya,” katanya.

Satu porsi mi goreng ekonomis diberi harga Rp12 ribu untuk di Tanjung Pinang.

Source pegi Makan Viva
Comments
Loading...