Lezatnya Gule Kacang Ijo Abbas, Kuliner Enak di Pasuruan

Gulai Kacang Ijo Abbas

Salah besar jika Pasuruan hanya identik dengan empat makanan: Rawon Nguling, Nasi Punel Bangil, Sate Komoh, dan Lontong Kupang Kraton. Coba belokkan kendaraan ke arah Kecamatan Gading, dan berhentikan tepat di belakang Yon Zipur. Ada warung gule kacang ijo Abbas yang siap memanjakan pecinta masakan kambing.

Sore itu masih sepi. Warung sepertinya baru saja buka. Hanya ada tiga bapak-bapak bersongkok putih yang sedang makan. Saya sengaja memilih jam-jam sore, karena makan gulai kacang ijo di waktu sore itu seperti bertemu dua kekasih yang sudah lama ditinggalkan. Lalu mendadak mereka muncul bersamaan dan bersandar pada bahu kanan dan kiri, tanpa ada pertengkaran satu sama lain. Nggak percaya? Coba sendiri.
Warung Gulai Kacang Ijo Abbas.

Ketika baru saja sampai, saya sebetulnya agak kaget melihat bentuk warung yang sudah berubah. Seingat saya dulu warung gule kacang ijo Abbas ini berdiri di sebelah barat rumah si pemilik. Sekarang pindah ke bangunan baru di sebelah timur rumah si pemilik. Ini mungkin gara-gara hampir setahun lebih saya tidak pernah mampir ke sini, jadi sekarang agak pangling.

Warung Gulai Kacang Ijo Abbas © Amal Taufik

Segera saya memesan satu porsi gulai kacang ijo kepada Bu Suriyati,

Saya duduk di depan rak pemisah antara panci tempat Bu Suryati menciduk gulai dengan meja pelanggan. Bu Suriyati, meski usia sudah di atas kepala lima, namun saya lihat masih cukup lincah melayani puluhan porsi gulai kambing pesanan pelanggan. Beliau masih murah senyum, akrab, dan Alhamdulillah masih ingat saya.

Tidak sampai 10 menit gulai kacang ijo pesanan saya datang. Sudah diberi kecap oleh Bu Suriyati. Karena gulai kacang ijo tanpa kecap rasanya kurang cocok. Kuah gulai kental berwarna merah kecoklatan yang gurih itu kodratnya harus ditumpahi sedikit kecap manis. Saya juga baru tahu bahwa kentalnya kuah gulai kacang ijo ini bukan didapat dari santan. Melainkan dari tumbukan kacang hijau yang dicampurkan ketika memasak. “Kalau pakai santan cepet basi gulainya”, kata Bisri, putra Bu Suriyati.

Saya kembali memandang seporsi gulai di hadapan saya. Tampilannya provokatif. Seakan nantang saya gelut. Tentu dengan senang hati saya pun melayani tantangan itu. Kuah yang ada di pinggiran piring langsung saya sendok sedikit. Rasa gurih rempah-rempah, rasa manis kecap, ditambah buih kacang hijau hancur langsung menempel pada langit-langit mulut lalu meluncur dengan pelan menuju usus. Setelah itu saya tak bisa menghentikan keinginan mulut saya untuk terus menyeruput kuahnya. Sembari menyeruput kuah, saya membayangkan salah satu sungai yang mengalir di surga nanti isinya adalah kuah gulai kacang ijo.

Kemudian saya melihat ada sepotong kikil yang berlumur kacang hijau berenang di atas kuah. Dengan sigap saya menangkapnya dengan garpu. Sendok di tangan kanan saya gunakan untuk memisahkan tulangnya. Kikil pun masuk ke mulut, di dalam mulut kikil itu menari-nari, tapi segera saya telan. Tidak sampai setengah jam gulai kacang ijo selesai saya tandaskan. Sebetulnya masih kurang puas. Ingin nambah satu porsi lagi. Tapi, ya, biasalah, mahasiswa, uang didompet tampak kehabisan nafas, maka niat nambah saya urungkan.

Menurut Bisri, ada beberapa orang yang bisa nambah sampai dua sampai tujuh porsi sekali makan. “Gila!” pikir saya. Saya bertanya apa sekarang orangnya masih sama seperti itu. “Sekarang sudah nggak. Paling cuma dua porsi. Darah tinggi katanya” jawab Bisri.

Abbas Surati adalah nama suami Bu Suriyati. Pria peranakan Pakistan itu mendirikan warung gulai kacang ijo beberapa hari setelah menyunting Bu Suriyati. Sebelumnya Pak Abbas punya warung kopi di selatan alun-alun Kota Pasuruan. Namun setelah menikah, oleh ibunya Pak Abbas disuruh membuka warung gulai kacang ijo.

Resepnya konon asli dari Pakistan. Pak Abbas memang bukan generasi pertama di keluarganya yang membuka warung gulai kacang ijo. Kakek Pak Abbas, Alisir Surati, sekitar tahun 1915 sudah buka warung gulai kacang ijo di Pasuruan. Namun warung itu tidak dilanjutkan oleh bapak dari Pak Abbas, Muhammad Alisir Surati. Barulah pada tahun 1980, Pak Abbas diamanahi resep turun temurun itu.

Tahun ini, 36 tahun sudah warung gulai kacang ijo Abbas menyuplai kebutuhan makan kambing masyarakat Kota Pasuruan. Sementara saya mengenalnya baru 7 tahun yang lalu. Pak Abbas sendiri sudah meninggal tahun 2011 kemarin. Sekarang, pengelola warung diteruskan oleh Bu Suriyati dibantu 3 orang anaknya: Afia, Zuhroida, dan Akhmad Bisri.

Pelanggan mereka tidak hanya warga Kota Pasuruan saja. Ada yang dari Lumajang, Surabaya, Sidoarjo, dan Jakarta. “Ketika puasa atau ketika ada acara haul kiai, pengunjung bisa lebih banyak”, ungkap Bisri. Sehari warung gulai ini bisa menghabiskan 15-25 kilogram daging kambing. Saya penasaran kenapa tidak pakai satu ekor kambing saja daripada beli daging kiloan. “Banyak yang nggak dipakai. Banyak yang mbuang. Wong butuhnya cuma daging aja. Kecuali ada pesenan, kami tidak pakai daging kiloan”, jawab Bisri.

Biasanya Bu Suriyati dan putra-putrinya mulai masak jam 12 siang. Daging mulai direbus di dalam panci. Daging muda direbus berbeda dengan daging tua. Daging tua cenderung alot, sehingga butuh lebih lama direbus daripada daging muda. Sementara menunggu daging selesai direbus, Bu Suriyati menyiapkan bumbu; jahe, kunir, bawang, klabet, garam digiling lalu disangrai di atas wajan. Kacang hijau ditumbuh dan dijadikan bubur. Jika sudah selesai, semua bumbu itu dimasukan dalam panci yang berisi daging rebus. Untuk masalah bumbu pun demikian, daging tua butuh lebih banyak taburan bumbu dibandingkan daging muda.

“Ibu tak punya takaran bumbu. Tapi jumputannya selalu pas”, kata Bisri. Bu Suriyati, jika ada yang tanya berapa jumlah takaran bumbunya, beliau tidak bisa menjawab. Bisri yang sudah mulai dipasrahi untuk memasak bumbu pun juga meniru ibunya, menjumput bumbu dengan menggunakan feel, tidak ada jumlah takaran tertentu.

Gulai kacang ijo ini juga bisa ditemui juga di daerah Ampel, Surabaya. Namun di sana lontong digantikan roti maryam. Cara makannya, roti maryam disobek kemudian dicocolkan ke kuah gulai. Sobekan roti maryam yang dilengkungkan bisa untuk menyendok gulai kacang ijo.

Jam menunjukkan pukul setengah 7 malam. Saya membayar total makanan beserta minuman yang saya pesan. Uang sebesar Rp 23.000 saya bayarkan untuk menggantikan kenikmatan satu porsi gulai kacang ijo dan segelas es teh manis. Sebelum pulang, saya sempat melontarkan satu pertanyaan penting kepada Bisri

Source pegimakan.id www.minumkopi.com
Comments
Loading...