Lodho Ayam Tulungagung,Kuliner Surabaya

Lodho ayam

Para perantau dari Tulungagung tentu tidak melupakan aroma bakar dan rasa masakan lodho ayam. Rasanya yang gurih dan pedas memang khas. Asal tahu saja, kurang bumbu sedikit dan cara mengolah yang salah, hilang sudah cita rasa mantap itu. Di kampung asal di, menu ini kerap menjadi sajian utama kenduri, meski kadang-kadang juga masuk dalam menu masakan rumah. Lodho ayam biasanya dimakan bersama sayur urap-urap. Konon, jika makanan yang dikenal di daerah Kediri, Tulungagung, dan Trenggalek ini tidak disajikan dengan sayur urap, maka bukan lodho ayam asli namanya.

Itu pula yang dipertahankan oleh Dewi Nilam Yati yang memiliki tempat makan Lodho Ayam Bu Nilam di kawasan Makam Kembang Kuning, Surabaya. Tepat nya di Jl.Kembang Kuning Kulon 1 Atas No.35, Pakis, Kec. Sawahan, Kota SBY, Jawa Timur 60256

Nilam yang berasal dari Kediri menyandingkan lodho ayamnya dengan sayur urap-urap dan lalapan mentimun. Sayuran urap-urap terdiri dari daun kenikir, tauge, dan kacang panjang. Sesekali saja diganti bayam karena menyesuaikan selera pembeli. Selain urap-urap, plecing kangkung juga menjadi teman sajiannya. Akan tetapi, karena tidak dapat tahan lama, maka Nilam Yati tidak memasukkannya dalam daftar menu.

Bukan itu saja, biasanya nasi yang turut dihidangkan berupa nasi tiwul atau nasi goreh (gurih). “Saya tidak memakai nasi tiwul sebab rumit cara mengolahnya dan tidak semua orang di Surabaya suka,” tutur perempuan cantik ini. Sedangkan nasi goreh terbuat dari beras yang dimasak dengan bumbu dan santan. Seperti nasi kuning tetapi tanpa bumbu kunyit. Begitu dihidangkan di piring, tampilannya tidak berbeda jauh dengan nasi biasa.

Tetapi rasanya lebih gurih mantap, dimakan nasi saja sudah terasa enak. Lodho ayam yang asli memang berbahan daging ayam kampung yang dibakar terlebih dulu sebelum diukep dengan kuah santan kental atau kani bumbu lengkap selama 30 menit. Proses membakar ini ditujukan untuk memunculkan aroma khas daging ayam bakar. “Biar lebih sedap dan menghilangkan lemak yang melekat pada daging dan kulit ayam,” kata Agus Sapto Renggo. yang kebagian tugas membakar ayam. Aromanya berbeda dengan ayam bakar biasa. Maklum, arangnya juga pilihan. Arang dipilih dari pohon kopi.

Paling penting di sini adalah rasa pedasnya yang khas sehingga kalau ada menu serupa tetapi rasanya tidak terlalu pedas maka dianggap bukan lodho ayam asli Tulungagung juga. Maka, ketika harga cabai mahal, Nilam Yati tidak mengurangi porsi cabai karena dapat memengaruhi tingkat kepedasan kuah lodho ayam.

Satu porsi lodho ayam dengan nasi biasa harganya Rp 11.000 dan Rp 13.000 dengan nasi goreh. Kalau ingin beli ayam saja, harganya Rp 9.000 per potong.

Lodho Bebek dan Aneka Botok Dalam sehari, Nilam Yati menyediakan 15 hingga 40 ekor ayam kampung. Satu ekor ayam ini dibelah menjadi empat bagian. Setelah dicuci bersih, ayam siap dibakar di depan rumah. Meski 7 terkenal lodho ayam, untuk melayani lidah orang Surabaya yang akrab dengan sajian dari bebek, maka dibuatlah menu spesial. Mereka yang suka daging bebek pun bisa memilih lodho bebek. “Iya, ini saya masukkan karena orang Surabaya sebagian besar suka bebek,” katanya. Upaya Nilam Yati untuk mengembangkan usaha cukup diacungi jempol. Memasukkan bebek ke dalam menu supaya mudah diterima oleh selera orang Surabaya menjadikan nilai plus. Varian yang satu ini cukup diminati karena bebek diapakan saja pasti diserbu orang Surabaya. Biasanya karena penasaran mencoba menu bebek yang baru, kemudian ketagihan dan tak bisa lagi berpaling. Tidak ada perbedaan pengolahan antara ayam dan bebek. Daging bebek juga dibakar sebelum diungkep. Lodho sendiri di tempat asalnya tidak terbatas pada daging ayam kampung, tetapi juga burung dara, lele, atau ikan kuthuk. Meski demikian, tetap saja lodho ayam yang paling disukai dan menjadi andalan.

Sumber info : www.tribunews.com

pegimakan.id
Comments
Loading...