Menikmati Apam Kudapan Tradisional Aceh

Menikmati Apam Kudapan Tradisional Aceh

Makanan tak selalu tentang citarasa, tapi juga tentang cerita yang ada di dalamnya. Maka tak lengkap pelesir ke suatu daerah tanpa mencoba kuliner khas. Kudapan menjadi salah satu peneman favorit menghabiskan sore.

Jika berkesempatan berkunjung ke Aceh, mampirlah ke Warung Pusaka Indatu Kuliner. Warung terbuka yang menawarkan atmosfer sederhana seperti halnya menu yang ditawarkan. Namun keberadaannya membuat warga pribumi bisa bernapas lega. Pasalnya di luar ritual adat, kudapan tradisional semakin jarang ditemui.

Adalah sang pemilik, Mukhlis Abu Bakar yang mempunyai ide melestarikan kuliner warisan leluhur atau yang dalam bahasa lokal disebut indatu.

Terletak di Jalan Peulangi Gampong Mulia Kecamatan Kuta Alam Kota Banda Aceh, tempat ini muenyuguhkan rupa-rupa kudapan tradisional Aceh dengan tepung dan santan sebagai bahan utama.

Apam menjadi menu andalan tempat ini. Makanan sejenis serabi ini disantap bersama kuah santan berisi potongan nangka dan pisang. Rasakan gurihnya saat apam yang berbahan dasar tepung beras diguyur dengan kuah santan dan disantap hangat-hangat.

Apam menempati tempat yang istimewa dan hanya hadir saat ritual adat. Di Aceh, apam atau serabi biasanya disuguhkan kepada tetamu yang melayat saat takziah atau upacara kematian.

Bahkan dalam kalender Aceh, terdapat sebuah bulan yang dinamai dan didedikasikan untuk penganan khas tersebut. Sepanjang sebulan penuh anda akan mendapati rumah-rumah di Aceh dibaui aroma apam. Kenduri apam yang jatuh pada Bulan Ra’jab kalender hijriah disambut dengan sukacita warga.

Saling silaturrahmi dengan menyuguhkan atau membagi-bagikan apam kepada para tetamu dan tetangga. Ritual adat ini lestari hingga kini, khususnya di kawasan pelosok Aceh. Selain apam adalagi bu payeh yang berbahan utama tepung ketan.

Warung Pusaka Indatu Kuliner di Banda Aceh baru berumur 3 bulanan. Tempat itu merupakan cabang dari daerah asalnya di Desa Lampoh Saka, Kecamatan Peukan Baroe, Kabupaten Aceh Pidie yang didirikan tahun 2005.

“Mulanya saya terpikir untuk mendirikan tempat ini karena sulit menemukan makanan khas Aceh dan tidak bisa makan sembarangan. Selain mengenyangkan makanan tradisional Aceh juga menyehatkan dan baik bagi lambung,” ujar pemilik Kafe Pusaka Indatu, Mukhlis Abu Bakar.

Pagi-pagi buta lima orang koki membantu mengolah kudapan tersebut mulai dari menyiapkan aneka penganan berbahan dasar tepung hingga memasakkan kuah santan dalam porsi banyak sebagai pelengkap.
Buka mulai pukul 09.00 – 18.00 WIB seporsi kudapan dihargai Rp 5.000.

Source http://www.tribunnews.com http://www.tribunnews.com/travel/2016/03/18/menikmati-kudapan-tradisional-aceh-di-warung-pusaka-indatu-kuliner
Comments
Loading...