Roti Sidodadi Bandung, Nikmat Dan Bersahaja

Roti Sidodadi Bandung, Nikmat Dan Bersahaja

Berbicara tentang roti saat ini terbayang aneka roti cantik menggugah selera di bakery modern ataupun mall – mall besar. Namun di tengah perubahan selera pasar beberapa toko roti tua justru sukses tak tergerus zaman. Toko Roti Sidodadi di Bandung contohnya, kelezatannya tak lekang waktu dan boleh di adu dengan roti-roti berkemasan modern itu.

Terkadang packaging jadul bisa membawa berkah. Sudah menjadi sifat manusia mudah larut dalam kenangan. Itulah yang dialami para penggemar roti Sidodadi, bentuk roti dan orisinalitas rasa menenggelamkan mereka dalam nostalgia masa kecil yang indah. Bagi muda-mudi zaman sekarang, roti ini mampu memberi prestisi tersendiri dan mematahkan mainstream dalam mengonsumsi roti ala bakery maupun café.

Hasil gambar untuk Roti Sidodadi Bandung

Toko Sidodadi didirikan tahun 1954 mengusung ide modifikasi dari roti khas Belanda yang cenderung keras menjadi lebih lembut dengan beragam rasa sesuai lidah orang Indonesia. Penampilannya tak semenggugah roti zaman sekarang, berwarna lebih gelap namun rasanya sama lembut. Hingga saat ini Sidodadi tak merubah resep leluhur atau pun proses pembuatannya. Dengan cara tradisional, roti dibuat dari campuran telur, gula, terigu, dan ragi dari peuyeum alias tape.

Toko Sidodadi menyajikan tidak kurang dari 30 pilihan rasa. Ada rasa cokelat, stroberi, blueberry, nanas, susu, kopi moka, sosis, baso, kornet, kismis, juga keju yang sengaja dibuat seperti mentega sehingga menyerap dalam roti. Selain itu bentuk rotinya pun beragam dari mulai bulat, lonjong, hingga tanduk yang dikenal dengan nama roti horn. Begitu buka pukul 10.00, pembeli langsung menyerbu toko tua yang besarnya tak seberapa itu. Sekejap Toko Sidodadi berubah menjadi pasar senggol, dimana tiap pelanggan saling bersinggungan dan berteriak minta dilayani.

Hasil gambar untuk Roti Sidodadi Bandung

Tak heran juga jika lewat dari jam 12 siang pilihan roti menjadi semakin terbatas. Padahal selama proses jual beli itu pun para pegawai tak hentinya bolak-balik membawa roti dari tempat pemanggangan ke etalase. Sering kali pukul 17.00 semua dagangan sudah ludes terjual, tokonya sendiri baru tutup pukul 20.00. Roti-roti yang kita beli akan dibungkus pada sebuah plastik putih yang desainnya tak berubah sejak awal toko Sidodadi berdiri. Bergambar seorang gadis membawa roti dari balik etalase dan karena tumbuh di era orde baru maka slogan pemerintah saat itu, seperti “Jadilah Peserta KB Lestari” dan “Buanglah Sampah Pada Tempatnya”, tercantum dalam bungkusan.

Anda bisa datang lebih awal sebelum toko buka untuk menghindari kepadatan. Kita hanya harus mengetuk pintu toko yang masih tertutup, nanti karyawan toko pun akan membukakan pintu dan mempersilahkan pengunjung masuk. Toko Sidodadi terletak di Jalan Otista 255 (Jl. Oto Iskandardinata). Harga yang ditawarkan mulai dari Rp. 2.600 – 11.000. Tempat ini dapat dicapai menggunakan angkot rute Elang – Abdul Muis (warna oranye, strip putih), St. Hall – Gedebage (hijau muda, strip merah marun), atau Cisitu – Tegalega (warna ungu, strip putih).

Source http://kuliner.panduanwisata.id http://kuliner.panduanwisata.id/indonesia/roti-sidodadi-nikmat-dan-bersahaja/
Comments
Loading...