Enaknya Rujak Natsepa Jajanan Istimewa & Mantap Khas Maluku

Rujak Natsepa

Panganan ini lebih dari sekadar “cuma”. Bahkan, terasa sangat istimewa. Untuk kalian yang tidak terlalu suka makan rujak Tapi begitu merasakan rujak natsepa… wuaaaa edan banget rasanya. Makanya ngga heran, baik penggemar fanatik rujak atau biasa saja, selalu merekomendasikan “nikmati rujak satu ini” untuk siapa saja yang pertama kali ke Ambon. Apabila kalian pertama kali ke Ambon dapat pesan begitu. “Cobain rujak natsepa. Ngga nyesel,” kata sahabatku.

Pertama-tama, untuk merasakan keistimewaan, berangkatlah menuju Pantai Natsepa. Lho kok ke pantai sich? Iya. Natsepa memang nama pantai yang terkenal di Maluku. Jaraknya sekitar 20 kilo dari Kota Ambon. Mudah diakses. Memilih menggunakan angkutan umum cukup mencari angkutan menuju Desa Suli lalu turun di Pantai Natsepa. Rujak Natsepa adanya di pinggir Pantai Natsepa. Di luar komplek pantai berjejer warung-warung yang menyediakan rujak super nikmat ini.

Berjejer Warung-warung rujak natsepa di pinggir Pantai Natsepa.

Menilik rujaknya, sepintas tidak beda dengan rujak yang lain. Ada ragam buah yang dicampur bumbu. Penyajian bisa dicampur, bisa juga dipisah sesuai selera. Rujak pun bisa diserut atau potong kecil-kecil, sesuai selera. Menu buah untuk rujak natsepa nyaris sama. Ada mangga mengkel, jambu air, nanas, kedongdong, pepaya, ketimun, dan bangkuang.

Yang istimewa justru bumbunya. Menurut Mama Fran, salah satu penjual rujak natsepa, campuran kacang dan gula jawa yang bikin orang suka. Gula jawa di sini agak beda dengan gula jawa di Pulau Jawa. Mama Fran bilang gula ini memang mirip gula jawa di Pulau Jawa, cuma bentuknya tidak bulat, tidak lonjong, melainkan kotak. Asalnya dari Makassar. Jadi lebih tepat disebut “gula makassar”.

Memilih gulanya, ternyata masing-masing penjual menggunakan gula yang beda, terutama asalnya. Ada yang dibuat atau diracik sendiri, ada yang cukup beli di Ambon, ada yang biasa dikirim dari Makassar. Secara umum, rasanya hampir sama. Butuh kepekaan lidah untuk membedakan rasa yang khas.

Racikan lain adalah bumbu kacang hasil olahan bersama kulitnya. Di panggang sampai kering. Ada tambahan bumbu atau racikan lain agar lebih lezat. Racikan ini menjadi keistimewaan masing-masing penjual. Tidak mudah mendapat jawaban detail isi racikan dan bagaimana prosesnya. “Supaya ngga ditiru,” kata salah satu penjual.

Kacang, cabe, gula jawa, asam, sedikit bawang putih, air, dicampur di cobekan lalu diulek. Pengulekan pun ada tekniknya. Tidak lebih dari sepuluh kali ulekan. Hasilnya memang sengaja dibuat tidak halus. Buah-buah tadi dicampur di cobekan, diaduk bersama bumbunya. Hhhhmmm….

Bumbu rujak sedang diulek. Maksimal 10 gerakan saja saat pengulekan.
Setelah merasakan, di lidah memang terasa istimewa. Salah satu yang saya rasakan adalah kekentalan. Kebetulan lidah saya akrab dengan taste pedas, manis, dan asem. Dengan kental begini terasa sekali pedas dan manisnya. Jadilah klop dan cocok.

Perihal harga, ya sangat terjangkau, Rp10 ribu saja per piring. Bagi saya tidaklah mahal, bahkan cenderung murah. Masih tidak sebanding dengan rasanya yang khas dan super nikmat. Harusnya rujak senikmat begini dihargai lebih misalnya Rp15 ribu.

Habis disantap, lanjut nikmati es kelapa natsepa. Mirip es kelapa umumnya. Bedanya dikasih susu serta kekentalan. Terasa sekali manis, kelapa, air kelapa, dan susu. Segelas besar cuma Rp7 ribu. Pasti nambah.

Santap sore-sore sambil mata memandang Pantai Natsepa, apalagi jika cuaca cerah bisa menikmati matahari terbenam. Kenikmatan traveling semakin lengkap. Komplet sudah kenikmatan rujak natsepa.

Source pegimakan.id www.kompasiana.com
Comments
Loading...