Sate Ayam Ngepos, Kuliner Madiun Sering Dikunjungi Pejabat

Sate Ayam yang satu ini memang hanya ada di tempat ini, antara Pasar Mlilir Madiun dan Perempatan Ngepos Ponorogo. Lebih tepatnya di sekitar tugu reog perbatasan Ponorogo-Madiun. Selain dari daerah sini, sate ayam yang ada cuma Sate Madura dan Sate Setono Ponorogo yang berbahan dasar ayam potong dan berbumbu halus.
Penjual sate jago ini di seputaran Pasar Mlilir yg masuk Wilayah Madiun dan ada 4 di sekitaran perempatan ngepos yg masuk Wilayah Ponorogo.

Dinding rumah makan Tukri Sobikun penuh foto orang-orang penting, di antaranya Presiden Keenam Susilo Bambang Yudhoyono dan keluarga serta Presiden Joko Widodo juga bersama keluarga.
Rumah makan khusus sate ayam Ponorogo itu memajang foto tokoh-tokoh nasional seperti Aburizal Bakrie, Gubernur Jawa Timur Soekarwo, mantan Kepala Polri Jenderal Polisi (Pur) Bambang Hendarso Danuri dan sejumlah pejabat lokal. Ada juga foto artis Ahmad Dhani dan Uya Kuya.
Barisan foto itu menandakan bahwa mereka pernah datang mencicipi sate khas Kota Reog itu.
“Pak SBY dua kali makan di sini bersama keluarganya. Kalau Pak Jokowi satu kali sebelum menjadi Presiden dan satu kali saat menjadi Presiden. Pak Aburizal Bakrie dulu malah bawa rombongan dan mendirikan terop di luar sana,” kata Siti Amini (65), pemilik rumah makan sate ayam Tukri Sobikun kepada Antara.
Ia mengatakan Eddhy Baskoro Yudhoyono, anak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), malah hampir setiap hari singgah ke warungnya saat musim kampanye pemilu beberapa tahun lalu.

Tukri dan Amini memulai usaha sate ayam dengan berjualan di emper toko yang disebutnya “perko”.
Pasangan Tukri dengan Amini membuka usaha sate ayam tahun 1975. Kala itu penjual sate biasanya memikul dagangannya keliling dari kampung ke kampung, Tukri dan Amini memilih berjualan di emperan toko.
Menempati satu tempat ternyata menguntungkan bagi Tukri dan Amini karena para pembelinya mudah mencari makanan tersebut. Kala itu sudah banyak pejabat yang menjadi pelanggan, seperti dari kepolisian dan instansi pemerintah.
Pada 1995, ia membuka warung kecil-kecilan di Jalan Lawu Gang I Nomor 43 K Kota Ponorogo dan pada puluhan tahun kemudian tempat itu menjadi rumah makan besar dan dikunjungi banyak tokoh penting. Usaha itu kini mampu menyerap 25 tenaga kerja.
Pengunjung rumah makan sate Tukri Sobikun sangat ramai, khususnya saat liburan tiba. Sebelum puasa lalu, pengunjung juga ramai dan kembali agak sepi saat puasa. Pengunjung akan kembali ramai saat Lebaran dan sesudahnya.
Amini menuturkan dia menggunakan ayam potong dengan berat di atas tiga kilogram untuk membuat sate. Ayam yang terlalu muda, menurut dia, kurang baik untuk sate karena mudah hancur.
Pada hari biasa rumah makannya menghabiskan dua kuintal atau sekitar 75 ayam dan dari Jumat hingga Minggu bisa menghabiskan 125 ekor ayam dalam sehari.

“Saat menjelang puasa atau Lebaran, biasanya menghabiskan 150 ekor ayam per hari. Dalam 15 ekor ayam biasanya menjadi 1.000 tusuk. Setiap 10 tusuk harganya Rp21.000 ditambah lontong menjadi Rp25 ribu,” katanya.

Sebelum dibakar, daging ayam yang telah ditusuk dilumuri campuran bumbu berupa bawang merah, bawang putih, laos, gula, garam, ketumbar, jinten, kemiri dan daun salam.
Ia mewarisi resep sate ayam itu dari leluhurnya dan tidak mengubah rasanya.
Ciri khas sate ini adalah bahan dasar satenya harus daging ayam kampung jantan/jago. Irisanya besar. Sehingga manteb ketika dikunyah, dan tanpa gajih. Sebelum dibakar, sate sudah terlebih dulu dikukus dengan bumbu rempah-rempah. Jangan berharap tusuk satenya rapi seperti Sate Madura atau Sate Setono Ponorogo.
Pendamping satenya haruslah ketupat bukan lontong. Sepiring porsi terdiri dari 1 irisan ketupat utuh dan 8 tusuk sate.

Sambel/bumbu kacangnya ditumbuk kasar dengan pedas yang menyengat. hati hati karena si penjual hanya menyediakan teh agak manis dan aqua gelas sebagai penawar pedas.

Yang terkenal adalah sate Mbah Jiyem, di utara lampu lalulintas ngepos, sebelah barat jalan. Bukan jam 4 sore dan biasanya jam 8 malam sudah habis.

Source Pegi Makan Sate Ayam Ngepos
Comments
Loading...