Warung Rujak Cingur Kuliner khas Surabaya

Warung Rujak Cingur Ahmad Jaiz.

Berkunjung ke Surabaya, rasanya tidak lengkap jika tak mencicipi makanan khas daerah tersebut. Rujak Cngur adalah salah satu makanan khas yang terkenal. Memang tidak sulit mencari rumah makan atau restoran yang menjual rujak cingur. Tapi sedikit yang terkenal dan menjadi langganan orang berkelas, seperti presiden dan kalangan artis.

Salah satu warung rujak cingur terkenal di Surabaya ialah Warung Rujak Cingur Ahmad Jaiz. Sesuai namanya, warung ini terletak di Jalan Ahmad Jaiz Nomor 40, Surabaya, Jawa Timur. Warung rujak ini sudah lama berdiri, sejak 46 tahun lalu.

Lokasi warung Rujak Cingur Ahmad Jaiz sedikit susah ditemukan, terutama bagi pelancong luar Surabaya. Lokasinya tepat di seberang Gedung Cak Durasim di Jalan Raya Genteng Kali. Dipisah sungai, menuju ke warung (jika dari arah Blauran) harus berputar di jembatan Genteng, lalu ke kiri menyusuri pinggir sungai Jalan Ahmad Jaiz.

Tidak ada plang atau papan nama bertulisan Warung Rujak Cingur Ahmad Jaiz. Butuh bertanya dulu ke tukang becak untuk menemukan warung tersebut.

“Rujak cingur yang mahal atau yang murah? Kalau yang murah dekat sini ada, rujak rombong. Kalau yang mahal itu di sana, rumah besar lantai tiga. Di situ ada warung rujak cingur,” kata seorang tukang becak menunjuk lokasi warung Rujak Cingur Ahmad Jaiz.

Bentuk warung Rujak Cingur Ahmad Jaiz jauh dari kesan rumah makan atau restoran.

Memang, bentuk warung Rujak Cingur Ahmad Jaiz jauh dari kesan rumah makan atau restoran. Tempat makan yang cukup terkenal itu berada di ruangan seperti garasi yang berada di bagian kiri bangunan rumah besar bergaya Eropa. Rumah bercat putih pucat itu berlantai tiga. Halaman parkirnya lapang, seluas lapangan bulu tangkis.

Di dalam warung, tiga deret meja panjang dengan kursi sederhana berjajar. Etalase kusam berisi bahan utama rujak berdiri di atas meja. Sejumlah foto memperlihatkan beberapa pejabat dan artis menempel di dinding. Tidak ada kesan mewah laiknya restoran warung rujak cingur terkenal.

Suasana rumah makan itu tampak sepi, belum ada pelanggan. Yang bisa ditemui hanya pemilik warung, Sioe Sin, generasi ketiga pemilik warung, dan ibunya, Ng Giok Cu. Baru satu jam kemudian beberapa pelanggan berdatangan. “Warung rujak ini usaha keluarga. Makanya tempatnya di rumah sendiri,” kata Sioe membuka obrolan.

Sejarah Berdirinya

Warung Rujak Cingur Ahmad Jaiz didirikan oleh seorang ibu rumah tangga keturunan Tionghoa bernama Lim Sian Neo pada tahun 1970. Ceritanya, waktu itu keluarga Lim sering didatangi seorang penjual cingur (daging sapi bagian mulut atau bibir) keliling asal Madura. Si penjual cingur kebetulan cacat mata atau tunanetra.

“Setiap hari penjual cingur buta itu berkeliling jalan kaki menawarkan cingur. Kalau jualan dia selalu bersama istri dan anaknya,” kata Sioe Sin, pemilik warung generasi ketiga. Waktu itu, dia mengaku masih kecil.

Karena kasihan, Lim selalu membeli cingur yang ditawarkan penjual tersebut. “Tapi nenek saya kemudian bingung, mau dibuat apa cingur-cingur yang dibeli itu,” ujar Sioe.

Dari situlah kemudian muncul ide untuk berjualan. Pilihan Lim ialah penganan khas Surabaya, rujak cingur. Warung sederhana pun di buka di rumahnya yang ditinggali keluarga besarnya sampai sekarang di Jalan Ahmad Jaiz. “Jadi ceritanya buka warung rujak cingur ya asal-asalan saja,” tutur Sioe.

Awalnya, terang dia, sedikit pembeli yang menghampiri warung Lim. Meski harga yang dibanderol untuk satu porsi sama dengan harga warung rujak lainnya, Rp25. “Namanya jualan kan tidak langsung ramai. Butuh waktu,” ungkap Sioe.

Pada tahun 1972, Lim mengalami musibah. Tangannya patah karena terjatuh. Ia tak bisa lagi menggunakan tangannya untuk mengulek bumbu rujak cingur. “Usaha ini lalu digantikan Mama saya (anak Lim), Ng Giok Cu,” ucap Sioe.

Sejak diganti Giok Cu, pelanggan warung Rujak Cingur Ahmad Jaiz makin ramai. Meski tidak memakai papan nama, banyak penggemar rujak cingur yang datang kewarung ini.

Sumber infa www.viva.co.id\

pegimakan.id
Comments
Loading...