Warung Sop Buntut Pak Kutar, Kuliner Kota Baru Jambi

BILA ingin menyantap sop buntut, jangan datang sore. Nasehat singkat itu barangkali akan berguna bila Anda bermaksud menikmati sedapnya olahan sop buntut di rumah makan pak Kutar. “Sop Buntut Pak Kutar” itulah tulisan yang tertera pada sepanduk membentang di muka rumah makan ini. Penggunaan nama Sop Buntut di muka, menandakan bahwa menu ini menjadi ikon menu unggulan di tempat ini. Tak terlalu sulit menemukan Sop Buntut Pak Kutar. Bila Anda berjalan dari arah Simpang Kawat, Anda tinggal menuju Tugu Juang.

Sebelum sampai bundaran, masuk kiri arah Arizona hingga bertemu simpang empat. Di perempatan tersebut, Anda akan melihat sebuah masjid, menandakan bahwa Anda berada di perempatan yang tepat.

Bila sudah sampai di tempat itu, Anda tinggal belok kiri sekitar 100 meter maka Anda akan menjumpai rumah makan ini persis di sisi sebelah kiri jalan.

Pak Kutar sendiri sebenarnya bukan nama baru di Jambi. Sejak 1953 sebuah warung nasi dengan embel-embel Pak Kutar telah berdiri di kawasan Tempino. Tempat makan berpapan kayu tersebut menjadi langganan pejabat di Jambi, dengan menu andalan olahan sopnya. Rumah makan tersebut sampai sekarang masih eksis.

Nah, Sop Buntut Pak Kutar yang terletak di kawasan Arizona ini merupakan cabang Tempino. Namun agak berbeda, bila di Tempino konsepnya warung nasi, di sini Anda hanya bisa menjumpai olahan sop. Indiarni, pemilik, sengaja mengonsep rumah makan ini sebagai spesialisasi penyedia sop. Ada tiga jenis sop yang bisa Anda santap di sini, yakni sop daging, sop iga dan tentu saja sop buntut. Hadirnya rumah makan ini, menurut ibu lima anak tersebut sebagai jawaban pelanggan yang banyak berasal dari Kota Jambi, sehingga tidak perlu jauh-jauh ke Tempino untuk menikmati sop buntut pak Kutar.

Penasaran dengan rekomendasi para relasi, Benar saja, jam baru menunjukkan pukul 1 siang, namun sop buntut telah ludes dipesan pelanggan. Alhasil Tribun memutuskan untuk menyantap sop daging siang itu. Barulah keesokan harinya, setelah membuat janji dengan bu Indiarni, keinginan untuk menyantap sop buntut pun terpenuhi.

Menurut perempuan 44 tahun ini, secara umum tak banyak perbedaan bumbu yang ia gunakan dengan bumbu sop lainnya. Hanya saja menurutnya takaran saji dan cara pengolahannya saja yang barangkali menentukan rasa. Sebelum proses masak, yang perlu dilakukan terlebih dulu adalah merebus tulang agar daging yang menempel pada tulang mudah dipisah dan memiliki tekstur lembut nantinya. Proses ini berlangsung kurang lebih satu jam.

“Nggak tahu kalau orang lain ya. Kalau saya merendam tulang cukup pakai air mendidih saja, tidak dicampuri garam atau apa,” tutur Indiarni.

Dari proses ini pula nanti diperoleh kaldu yang memiliki peran penting sebagai satu pendongkrak citarasa kuah sop sendiri. Untuk kuah sendiri, perempuan berjilbab ini hanya menggunakan bumbu umumnya seperti bawang merah, bawang putih, jahe, pala, kayu manis garam dan penyedap rasa.

Untuk menjaga citarasa kuah sop, Indiarni memilih memasak kuah hingga matang lalu mendiamkannya. Baru setelah ada pengunjung yang memesan, barulah ia mengambil kuah secukupnya dan dipanasi sebelum disajikan.

“Kalau saya panasin kuahnya terus kan bisa asin, jadi setelah matang mendidih saya diemin. Baru ketika ada orang beli saya ambil secukupnya saya panasin, supaya rasa tidak berubah, tetap segar,” tuturnya.

Alamat: Simpang III Sipin, Kota Baru, Kota Jambi, Jambi 36124

Source Trimbunnews
Comments
Loading...